Showing posts with label Biografi Pahlawan². Show all posts
Showing posts with label Biografi Pahlawan². Show all posts

Biografi Sultan Thaha Syaifuddin

Biografi Sultan Thaha Syaifuddin

Pada tahun 1941, Thaha Syaifuddin diangkat sebagai Perdana Menteri oleh Sultan Abdurachman. Sejak itu pulalah dia selalu menunjukan sikap menentang terhadap kekuasaan Belanda di Jambi.

BIODATA
Lahir                      :              Jambi, 1816
Wafat                     :              Betong, 24 April 1904
Makam                  :              Muara Tebo



Setelah diangkat menjadi Sultan, ia malah menolak mendatangi perjanjian yang menyatakan bahwa jambi adalah milik belanda dan Sultan jambi hanya meminjam dari Belanda.

Pada 25 September 1858, Belanda melakukan serangan ke Jambi, meskipun berhasil menenggelamkan kapal-kapal Belanda, tetapi Sultan Thaha tidak mampu mempertahankan istananya ke pedalaman.

Sejak itu, Sultan melakukan perlawanan secara gerilnya dan membeli senjata dari pedagang-pedagang inggris.

Aplir 1904, pertahanan terakhir Sultan Thaha diserang secara besar-besaran oleh belanda. Sultan Thaha berhasil meloloskan diri. Sultan Thaha akhirnya wafat pada tanggal 24 April 1904 dan dimakamkan di Muara Tebo. Saat ini mananya diabadikan menjadi lapangan terbang utama di Kota Jambi. Berdasarkan SK Presiden RI No. 079/TK/1977, Sultan Thaha Syaifuddin dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional.

Biografi Jendral Gatot Subroto

Biografi Jendral Gatot Subroto

Semasa kecil, Gatot Subroto dikenal sebagai anak pemberani dan sering berkelahi dengan anak-anak Belanda yang menghina anak-anak pribumi. Pada tahun 1923, Gatot Subroto mengikuti pendidikan militer dan menjadi KNIL (Tentara Hindia Belanda), Gatot Subroto selalu membela rakyat kecil dan menyumbangkan sebagian gajinya untuk membantu mereka.


Biodata :
Lahir : Banyumas, 10 Oktober 1907
Wafat : Jakarta, 11 Juni 1962
Makam : Ungaran


Pada masa penduduk jepang, Gatot Subroto juga ikut dalam pendidikan militer PETA. Jabatan terakhirnya dalam pendidikan militer PETA adalah komandan batalyon. Setelah Indonesia merdeka, Gatot Subroto bergabung dengan TKR/TNI.

Pada tanggal 11 September 1948, terjadi pemberontakan PKI di Surakarta. Pemerintah kemudian menunjuk Gatot Subroto, yang waktu itu masih berpangkat kolonel, sebagai Gubernur Militer Wilayah Surakarta dan sekitarnya untuk mengatasi keadaan tersebut. Pada tanggal 17 September 1948, pasukan PKI mundur dari surakarta.

Gatot Subroto juga pernah diangkat sebagai Panglima Tentara dan Teritorium IV/Diponegoro. Selain itu, pada tahun 1956 dia pernah menjabat sebagai Wakil Kepala Staf Angkatan Darat. Gatot Subroto Juga merupakan salah satu pelopor berdirinya Akademi Militer / Akabri (Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia). Sebagai jendral, Gatot Subroto terkenal suka berterus-terang tanpa basa-basi. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 222/1962, Jendral Gatot Subroto diangkat sebagai tokoh Nasional/Pahlawan kemerdekaan Naional.

Biografi Tjilik Riwut

Biografi Tjilik Riwut

Nama lengkap : Tjilik Riwut
Wafat : palangkaraya, 17 agustus 1987

Tjilik Riwut adalah tokoh pejuang asli kalimantan yang aktif memperjuangkan eksistensi masyarakat dayak. Sekalipun banyak menempuh pendidikan dan karier di pulau jawa, ia tetap memperjuangkan kemajuan masyarakat dayak. Biografi Tjilik Riwut pernah menjadi pemimpin redaksi majalah suara rakyat, sebuah majalah yang didirikan oleh kaum muda dayak di perantauan yang membentuk organisasi bernama pakat dayak.


Setelah proklamasi kemerdekaan, Tjilik Riwut yang telah menjadi mayor TKR jawatan penerbangan (sekarang TNI AU) pernah memimpin rombongan pemuda yang bertugas untuk menggerakan perjuangan di kalimantan. Ia pun sempat membentuk angkatan bersenjata untuk melakukan perang gerilnya melawan belanda di kalimantan. Tjilik Riwut juga pernah membentuk pemerintahan darurat RI Di kalimantan.

Pada waktu kembali ke Yogyakarta, Tjilik Riwut ditunjuk oelh kepala TNI AU waktu itu (S. Suryadarma) untuk menjadi ahli siasat dalam operasi penerjunan pasukan yang pertama kali di desa sambi, kotawaringin, kalimantan tengah. Pada peristiwa operasi penerjunan pasukan yang pertama oleh putra-putra indonesia (13 Orang, terdiri dari 11 orang putra kalimantan dan 2 orang putra jawa), Tjilik Riwut ditunuk sebagai penunjuk jalan bagi tim operasi tersebut. Ia ditugaskan untuk menunjukan “titik lokasi penerjunan” yang dilakukan pada tanggal 17 oktober 1947. Stetlah pengakuan kedaulatan, Tjilik Riwut pernah diangkat sebagai Gubernur Kalimantan Tengah. Ia berjasa besar membangun Palangkaraya dan Kalimantan Tengah.

Selain itu, ia juga pernah diangkat sebagai anggota DPR dan anggota DPA. Pangkat terakhir Tjilik Riwut adalah kolonel, tetapi TNI AU kemudian menganugerahinya pangkat Marsekal Pertama Kehormatan karena jasa-jasanya bagi TNI AU.

untuk menghormati jasa-jasanya Tjilik Riwut, berdasarkan Surat keputusan Presiden RI.No 108/TK/1998, Pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional.

Biografi Tjilik Riwut

Biografi Tjilik Riwut

Nama lengkap : Tjilik Riwut
Wafat : palangkaraya, 17 agustus 1987

Tjilik Riwut adalah tokoh pejuang asli kalimantan yang aktif memperjuangkan eksistensi masyarakat dayak. Sekalipun banyak menempuh pendidikan dan karier di pulau jawa, ia tetap memperjuangkan kemajuan masyarakat dayak. Biografi Tjilik Riwut pernah menjadi pemimpin redaksi majalah suara rakyat, sebuah majalah yang didirikan oleh kaum muda dayak di perantauan yang membentuk organisasi bernama pakat dayak.


Setelah proklamasi kemerdekaan, Tjilik Riwut yang telah menjadi mayor TKR jawatan penerbangan (sekarang TNI AU) pernah memimpin rombongan pemuda yang bertugas untuk menggerakan perjuangan di kalimantan. Ia pun sempat membentuk angkatan bersenjata untuk melakukan perang gerilnya melawan belanda di kalimantan. Tjilik Riwut juga pernah membentuk pemerintahan darurat RI Di kalimantan.

Pada waktu kembali ke Yogyakarta, Tjilik Riwut ditunjuk oelh kepala TNI AU waktu itu (S. Suryadarma) untuk menjadi ahli siasat dalam operasi penerjunan pasukan yang pertama kali di desa sambi, kotawaringin, kalimantan tengah. Pada peristiwa operasi penerjunan pasukan yang pertama oleh putra-putra indonesia (13 Orang, terdiri dari 11 orang putra kalimantan dan 2 orang putra jawa), Tjilik Riwut ditunuk sebagai penunjuk jalan bagi tim operasi tersebut. Ia ditugaskan untuk menunjukan “titik lokasi penerjunan” yang dilakukan pada tanggal 17 oktober 1947. Stetlah pengakuan kedaulatan, Tjilik Riwut pernah diangkat sebagai Gubernur Kalimantan Tengah. Ia berjasa besar membangun Palangkaraya dan Kalimantan Tengah.

Selain itu, ia juga pernah diangkat sebagai anggota DPR dan anggota DPA. Pangkat terakhir Tjilik Riwut adalah kolonel, tetapi TNI AU kemudian menganugerahinya pangkat Marsekal Pertama Kehormatan karena jasa-jasanya bagi TNI AU.

untuk menghormati jasa-jasanya Tjilik Riwut, berdasarkan Surat keputusan Presiden RI.No 108/TK/1998, Pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional.

Biografi KH Abdul Halim

Biografi KH Abdul Halim

Nama Lengkap : Abdul Halim
Lahir :  Majalengka, Jawa Barat, 26 Juni 1887
Wafat : 17 Mei 1962

KH Abdul Halim adalah pahlawan Indonesia yang berjuang dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia hingga mempertahankan dari Agresi Militer Belanda. Dalam mempertahankan kemerdekaan Abdul Halim berbasis di Gunung Ceremai untuk menghadapi Agresi Militer Belanda II dengan berperang gerilya. Ia memimpin dalam penghadangan militer Belanda di wilayah Keresidenan Cirebon. Ia, ikut dalam BPUPKI dalam rangka persiapan kemerdekaan Indonesia sebagai anggota BPUPKI.


Gelar Pahlawan Nasional diberikan kepada Abdul Halim bertepatan pada peringatan Hari Pahlawan tanggal 10 November 2008. Keputusan ini disampaikan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Kabinet Indonesia Bersatu, Muhammad Nuh pada tanggal 2 November 2008 di Jakarta berdasarkan SK Presiden no /TK/2008 (6 November 2008).

Semoga Biografi KH Abdul Halim ini bermanfaat bagi anda, terima kasih.

Biografi Teuku Nyak Arief

Biografi Teuku Nyak Arief

Nama Lengkap : Teuku Nyak Arief
Lahir : Tekengon, 4 Mei 1946
Makam : Lam Nyong Aceh

Teuku Nyak Arief menempuh pendidikanya di OSVIA (Sekolah pamong praja) serang, jawa barat. Setelah tamat pada tahun 1915, ia kembali ke banda aceh. Tahun 1919, ia diangkat menjadi ketua Nationale Indische Partij (NIP) cabang Banda Aceh. Tahun 1920, ia kembali diangkat suatu daerah tertentu di aceh.


Teuku Nyak Arief peenah menjadi anggota Voolksraad (Dewan Rakyat) selama satu periode. Ia juga merupakan salah seorang pendiri fraksi nasional dalam Volksraad. Selama menjadi anggota Volksraad, ia kerap mengritik kebijakan pemerintah Hindia Belanda yang selalu merugikan rakyat.

Demikian pula pada jaman jepang, nyak Arief selain ditunjuk sebagai anggota aceh syu sangikai(dewan rakuat aceh), juga dipercaya menjadi anggota sumatera cuo sangi in (dewan rakyat sumatera). Meskipun kedua lembaga tersebut bentukan jepang, namun secara diam-diam nyak arief tetap melakukan gerakan bawah tanah untuk menentang jepang.

Setelah indonesia merdeka, Teuku Nyak Arief diangkat sebagai Residen Aceh. Ketika iru aceh masih ada tentara jepang yang tersisa menunggu dilucuti sekutu. Sekutu ditolak masuk oleh Teuku Nyak Arief, alasanya pemerintah daerah aceh mampu melakukan itu. Teuku Nyak Arief kemudian melucuti senjata tentara jepang.
Namun jepang sendiri menolak untuk dilucuti oleh orang-orang aceh, sehingga pertentangan antara keduanya dimaafkan oleh pihak sekutu. Dengan begitu, sekutu merasa tidak perlu turun tangan langsung melawan pejuang-pejuang aceh yang menolak kedatangan tentara sekutu. Terjadilah perang antara pejuang aceh melawan jepangyang dikenal sebagai peristiwa Krueng Panjo/Bireun.

Selain melawan jepang dan sekutu, pemerintah daerah aceh juga dipusingkan oleh adanya pemberontakan yang dilakukan oleh golongan agama di aceh. Mereka ingin merebut tampuk pemerntah dari golongan ULU Balang (bangsawan). Untuk menghindari terjadinya pertumpahan darah, Teuku Nyak Arief sebagai residen aceh membiarkan dirinya untuk ditawan oleh laskar mujahidin dan tentara perlawanan rakyat(TPR). Teuku Nyak Arief kemudian dibawa ke Takengon. Tidak berapa lama, tanggal 4 Mei 1946, Teuku Nyak Arief meninggal dunia akibat penyakit gula yang dideritanya selama ini kambuh. Teuku Nyak Arief diteguh sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI. No.071/TK/1974.

Biografi Syekh Yusuf Tajul Khalwati

Biografi Syekh Yusuf Tajul Khalwati

Meskipun Syekh Yusuf lahir di Gowa, Sulawesi Selatan, namun dirinya banyak menhabiskan waktu untuk berjuang di Banten bersama Sultan Ageng Tirtayasa. Perkenalan Syekh Yusuf dengan Sultan Banten terjadi lebih kurang pada tahun 1644 sewaktu akan menunaikan ibadah Haji. Sebelum ke Mekkah, Syekh Yusuf mampir ke Banten dan tinggal selama 5 tahun di kediaman Sultan Ageng Tirtayasa. Ketika itu, banten sedang bermusyuhan dengan Belanda.

Sekembalinya dari mekkah pada tahun 1664, Syekh Yusuf mampir kembali ke Banten dan membantu perjuangan Sultan Banten melawan VOC. Bahkan ia kemudian dijadikan menantu dan penasihat kesultanan.

Ketika Belanda dan Sultan Haji berhasil menguasai kesultanan Banten, Sultan Ageng Tirtayasa ditangkap dan dipenjara di Batavia. Sedangkan syekh Yusuf bersama pengikutnya dibuang ke Sri lanka pada tahun 1684.
Di Sri Lanka, Syekh Yusuf tetap berusaha berjuang dengan cara mengirimkan surat-surat kepada penguasa-penguasa di Nusantara untuk menentang Belanda. Di samping itu ia juga menyebarkan agama Islam. Perbuatan Syekh Yusuf tersebut membuat Belanda berang dan kembali membuang Syekh Yusuf ke Afrika Selatan.

Selama lima tahun di Afrika Selatan, Syekh Yusuf tetap menyebarkan agama Islam. Oelh karena itu, penduduk di Cape Town hingga kini menganggap Syekh Yusuf sebagai orang pertama yang menyiarkan agama Islam Di Afrika Selatan. SK Presiden RI No. 071/TK/1995 meneguhkan Syekh Yusuf Tajul Khalwati sebagai Pahlawan Naional.

Biografi Sultan Ageng Tirtayasa

Biografi Sultan Ageng Tirtayasa

Nama kecilnya adalah Abdul Fatah. Ia diangkat menjadi Sultan Banten pada usia 20 tahun dan mendapat gelar Sultan Ageng Tirtayasa. Sultan Ageng Tirtayasa memerintahkan rakyat Banten untuk menolak bekerjasama dengan VOC (Belanda) dan melakukan serangan-serangan gerilnya terhadap kedudukan Belanda.


Ia juga nerhasil membongkar blokade laut belanda dan melakukan kerjasama dagang bangsa-bangsa Eropa lain seperti Denmark dan inggris. Banyak kapal dan perkebunan teh VOC yang berhasil dirampas dan dirusak oleh pejuang-pejuang Banten. Hal ini sangat merugikan VOC.

Belanda akhirnya memakai strategi adu domba untuk menundukan Banten, yakni dengan menghasut Sultan Haji Anak tertua Sultan Ageng. Sultan Haji termakan hasultan Belanda dan mengira ayahnya akan menyerahkan kekuasaanya kepada Pangeran Purbanya, adik sultan Haji, sehingga terjadi perselisihan bahkan sampai terjadi peperangan antara ayah dan anak. Kerjasama Belanda dan Sultan Haji akhirnya dapat mengalahkan Sultan Ageng Tirtayasa. Pada tahun 1683, Sultan Ageng Tirtayasa berhasil ditangkap dan dibuang ke Batavia hingga wafat dipenjara pada tahun 1692. Sedangkan Pangeran Purbaya menyingkir ke daerah Priangan. Berdasarkan SK Presiden RI No. 045/TK 1970, nama Sultan Ageng Tirtayasa tercatat sebagai Pahlawan Nasional.

Biografi Andi Djemma

Biografi Andi Djemma

Nama Lengkap : Andi Djemma
Lahir : Palopo, Sulawesi Selatan, 15 Januari 1901
Meninggal : Makassar, Sulawesi Selatan, 23 Februari 1965 Pada umur 64 tahun

Andi Djemma adalah Raja Luwu seorang Tokoh Indonesia dan dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Republik Indonesia tanggal 8 November 2002.




Wilayah kekuasaannya kemudian menjadi daerah setingkat kabupaten setelah beberapa wilayahnya memisahkan diri menjadi beberapa kabupaten, Kabupaten Luwu, Kabupaten Luwu Utara, Kota Palopo, Kabupaten Luwu Timur dan Tana Toraja, semuanya masih di wilayah Provinsi Sulawesi Selatan. Sedangkan Kolaka menjadi sebuah kabupaten di Sulawesi Tenggara dan Poso di Sulawesi Tengah.

Menjelang kemerdekaan Indonesia pada 15 Agustus 1945, Djemma bahkan memimpin 'Gerakan Soekarno Muda' dan memimpin Perlawanan Semesta Rakyat Luwu pada 23 Januari 1946. Tanggal itu sekarang diperingati sebagai Hari Perlawanan Rakyat Semesta.

Pada 5 Oktober 1945, Djemma sempat mengultimatum pihak Sekutu agar segera melucuti tentaranya dan kembali ke tangsinya di Palopo. Ultimatum itu dibalas Gubernur Jenderal Belanda, Van Mook, dengan ultimatum juga. Andi Djemma yang mempunyai lima putera itu baru tertangkap Belanda pada 3 Juli 1946 dan diasingkan ke Ternate. Ia akhirnya meninggal di Makassar pada 23 Februari 1965.

Biografi Zainul Arifin

Biografi Zainul Arifin

Nama Lengkap : Zainul Arifin
Lahir :  Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, 2 September 1909
Meninggal : Jakarta, 2 Maret 1963

Zainul Arifin adalah seorang politisi Nahdlatul Ulama terkemuka yang sejak remaja di zaman penjajahan Belanda sudah aktif dalam organisasi kepemudaan NU, GP Ansor, jabatan terakhirnya ialah ketua DPRGR sejak 1960 - 1963.



Berbekal ijazah HIS Arifin diterima bekerja di pemerintahan kotapraja kolonial (Gemeente) sebagai pegawai di Perusahaan Air Minum (PAM) di Pejompongan Jakarta Pusat. Di sana ia sempat bekerja selama lima tahun, sebelum akhirnya terkena PHK saat resesi global yang bermula di AS dan berdampak hingga ke wilayah Hindia Belanda. Keluar dari gemeente Arifin kemudian memilih bekerja sebagai guru sekolah dasar dan mendirikan pula balai pendidikan untuk orang dewasa, Perguruan Rakyat, di kawasan Meester Cornelis (Jatinegara sekarang).

Zainul juga sering memberi bantuan hukum bagi masyarakat Betawi yang membutuhkan sebagai tenaga Pokrol Bambu, pengacara tanpa latar belakang pendidikan Hukum namun menguasai Bahasa Belanda. Selain itu ia pun aktif kembali dalam kegiatan seni sandiwara musikal tradisional Betawi yang berasal dari tradisi Melayu, Samrah. Ia sempat mendirikan kelompok samrah bernama Tonil Zainul. Dari kegiatan kesenian ini ia berkenalan dan selanjutnya sangat akrab bersahabat dengan tokoh perfilman nasional, Jamaluddin Malik yang kala itu juga bergiat dalam kegiatan Samrah. Kedua mereka kemudian bergabung dengan Gerakan Pemuda (GP) Ansor yang ketika itu memang aktif merekrut tenaga-tenaga muda.

Karier Politik


Sejak proklamasi kemerdekaan Zainul Arifin langsung duduk dalam Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP KNIP), cikal bakal lembaga legislatif MPR/DPR. Hingga akhir hayatnya Arifin aktif di parlemen mewakili partai Masyumi dan kemudian partai NU setelah NU keluar dari Masyumi pada 1952. Hanya selama 1953-1955 ketika menjabat sebagai wakil perdana menteri dalam kabinet Ali-Arifin (Kabinet Ali Sastroamijoyo I) Zainul terlibat dalam badan eksekutif. Kabinet di era Demokrasi Parlementer ini sukses menyelenggarakan Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada 1955.

Pemilu pertama 1955 mengantar Zainul Arifin sebagai anggota Majelis Konstituante sekaligus wakil ketua DPR sampai kedua lembaga dibubarkan Sukarno melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959.Memasuki era Demokrasi Terpimpin itu, Arifin bersedia mengetuai DPR Gotong Royong (DPRGR) sebagai upaya partai NU membendung kekuatan Partai Komunis Indonesia (PKI) di parlemen. Ditengah meningkatnya suhu politik, pada 14 Mei 1962, saat salat Idul Adha di barisan terdepan bersama Sukarno, Zainul tertembak peluru yang diarahkan seorang pemberontak dalam percobaannya membunuh presiden. Zainul Arifin akhirnya wafat 2 Maret 1963 setelah menderita luka bekas tembakan dibahunya selama sepuluh bulan

Biografi RM Ario Soerjo

Nama Lengkap : RM Ario Soerjo
Lahir : Magetan, Jawa Timur, 9 Juli 1895
Meninggal : Bago, Kedunggalar, Ngawi, Jawa Timur, 10 September 1948 pada umur 53 tahun

RM Ario Soerjo adalah seorang pahlawan nasional Indonesia dan gubernur pertama Jawa Timur dari tahun 1945 hingga tahun 1948. Sebelumnya, ia menjabat Bupati di Kabupaten Magetan dari tahun 1938 hingga tahun 1943. Ia adalah menantu Raden Mas Arja Hadiwinoto. Setelah menjabat bupati Magetan, ia menjabat Su Cho Kan Bojonegoro pada tahun 1943.


RM Suryo membuat perjanjian gencatan senjata dengan komandan pasukan Inggris Brigadir Jendral Mallaby di Surabaya pada tanggal 26 Oktober 1945. Namun tetap saja meletus pertempuran tiga hari di Surabaya 28-30 Oktober yang membuat Inggris terdesak. Presiden Sukarno memutuskan datang ke Surabaya untuk mendamaikan kedua pihak.

Gencatan senjata yang disepakati tidak diketahui sepebuhnya oleh para pejuang pribumi. Tetap saja terjadi kontak senjata yang menewaskan Mallaby. Hal ini menyulut kemarahan pasukan Inggris. Komandan pasukan yang bernama Jenderal Mansergh mengultimatum rakyat Surabaya supaya menyerahkan semua senjata paling tanggal 9 November 1945, atau keesokan harinya Surabaya akan dihancurkan.


Tanggal 10 September 1948, mobil RM Suryo dicegat pemberontak anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) di tengah hutan Peleng, Kedunggalar, Ngawi. Dua perwira polisi yang lewat dengan mobil ikut ditangkap. Ke 3 orang lalu ditelanjangi, diseret ke dalam hutan dan dibunuh. Mayat ke 3 orang ditemukan keesokan harinya oleh seorang pencari kayu bakar.

R. M. T. Soerjo dimakamkan di makam Sasono Mulyo, Sawahan, Kabupaten Magetan. Sebuah monumen yang dibangun untuk mengenang jasa-jasanya terletak di Kecamatan Kedunggalar kabupaten Ngawi.

Semoga Biografi RM Ario Soerjo ini bermanfaat untuk anda, terima kasih.